Mazmur Restorasi Papua

Selpius Bobii. (Mazmur Pemulihan di bawah ini kita mendaraskan atau doakan pada jam 6 pagi dan jam 6 sore).

Ya Bapa yang maha tahu, Dikau mengetahuinya bahwa masalah mendasar Papua adalah ‘distorsi sejarah politik’ bangsa Papua. Kami berdiri di sini bersama sejarah ‘Deklarasi Manifesto Politik Bangsa Papua’ pada 19 Oktober 1961 dalam Kongres I bangsa Papua dan kami juga berdiri di sini bersama sejarah Sang Bintang Fajar yang pertama kali mengudara pada 1 Desember 1961. Ya Allah pencipta langit dan bumi serta segala isinya, Dikau tahu bahwa bangsa Papua berjuang untuk menegakkan kebenaran sejarah yang dibengkokkan dan ditutupi oleh NKRI dan para sekutunya. Kami yakin dengan sungguh-sungguh bahwa sejarah politik Papua yang diteruskan oleh para pendahulu kami adalah benar adanya, dan hal ini didukung oleh sebuah tulisan ilmiah karya Profesor Dr. Drooglever di Belanda serta karya ilmiah lainnya yang ditulis oleh orang Papua dan non Papua.

Ya Bapa sumber kebenaran Ilahi, walaupun kami adalah generasi ketiga dalam perjuangan ini, kami berusaha mendalami sejarah Papua dan kami meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa kami berada pada jalan yang benar, karena jalan sejarah adalah jalan benar; Kami tidak akan pernah keluar dari jalan sejarah, jalan yang dirintis para pendahulu kami, karena jalan sejarah ini dibayar dengan banyaknya air mata darah Papua yang tidak bersalah.

Ya Bapa yang maha kudus, kami tidak pernah mundur selangkahpun, karena kami berada pada jalan sejarah – jalan kebenaran; hidup kami dipertaruhkan untuk membela yang benar, untuk menegakkan kebenaran sejarah Papua demi keadilan dan perdamaian Papua untuk perdamaian dunia; Kami tidak seperti Negara Indonesia serta negara pendukung lainnnya yang selama ini pantang mundur dalam mempertahankan penjajahan dan penjarahan di tanah Papua untuk membela yang salah.

Ya Allah yang maha adil, Engkau mengetahui dengan pasti siapa yang benar dan siapa yang salah; Karena semua yang terjadi dalam perjalanan sejarah bangsa Papua terjadi di depan mata-Mu Tuhan; Pertarungan Ideologi Pancasila dan Ideologi Mabruk telah memakan korban yang tiada tara; Indonesia di dukung oleh negara-negara pendukungnya mempertahankan kebenaran menurut versi mereka; sementara bangsa Papua serta para simpatisan Internasional mempertahankan kebenaran sejarahnya. Jika kedua-duanya tidak ada yang mengalah dan mengakui kesalahannya, maka ke depan banyak manusia yang akan dikorbankan selama mempertahankan kebenarannya masing-masing. Kami bangsa Papua bertekad berjuang sampai titik darah penghabisan- artinya selagi masih ada generasi Papua yang jatuh cinta pada tanah airnya, mereka akan terus bangkit untuk memperjuangkan penegakkan kebenaran untuk keadilan dan perdamaian Papua bagi perdamaian dunia; kami bertekad berjuang sampai kebenaran itu membuktikan dirinya bahwa ‘ia benar adanya’ dan pada akhirnya ‘kebenaran itu akan ke luar sebagai pemenang akhir yang tak terkalahkan.

Ya Bapa, hakim agung yang maha adil, kami bangsa Papua memohon-Mu yang kesekian kalinya dari lubuk hati kami yang paling dalam bahwa “mohonlah kiranya selidikilah dan selesaikanlah perkara status politik bangsa Papua yang sudah 57 tahun lebih bangsa Papua bertarung dengan Negara Indonesia; Keadilan-Mu bagaikan hujan pada musim penghujan, keadilanMu bagaikan embun pada musim semi, dan kasih setiaMu bagaikan. sungai yang mengalir siang dan malam tiada henti.

Ya Bapa, kami mohon campur tangan-Mu untuk menyelesaikan distorsi sejarah Papua yang telah memakan korban materi, korban perasaan, korban waktu, korban tenaga, dan bahkan korban nyawa manusia yang tidak sedikit; Biarlah ya Tuhan, keadilan-Mu bergulung-gulung meresap ke bumi ini membangkitkan jiwa-jiwa yang rindu kebebasan, biarlah keadilan-Mu mengalir deras meresap ke dalam lelung jiwa-jiwa bangsa Papua yang sedang letih, lesuh dan berbeban berat memikul Salib kebenaran untuk keadilan dan perdamaian Papua.

Ya Bapa, tak cukupkah jutaan orang asli Papua yang telah tewas dibunuh, baik secara nyata dan terselubung oleh para algojo Indonesia? Ya Tuhan, tak cukupkah air mata darah Papua yang telah tercurah demi menebus kebebasan bangsa Papua untuk terwujudnya keadilan dan perdamaian Papua?

Ya Tuhan, kepada siapakah kami meminta pertolongan? Kami telah berulang kali meminta tolong kepada para pembesar di dunia ini, tetapi tidak ada yang mampu memutuskan belenggu penindasan ini; Kebanyakan dari mereka hanya sibuk bekerja sama dengan Indonesia untuk menjajah bangsa Papua dan menjarah sumber-sumber ekonomi di Tanah Papua; Pada forum-forum terhormat, misalnya di forum PBB, kebanyakan dari mereka berbicara pentingnya penegakkan hukum, HAM dan demokrasi, tetapi itu hanyalah sederatan kata-kata indah yang tak bermakna; Di balik kata-kata indah tersembunyi kepalsuan, kebohongan, kesombongan dan kepentingan, serta keserakahan. Walaupun demikian, kami bangsa Papua menghargai beberapa orang pembesar di manca negara yang dengan sungguh-sungguh menyuarakan pembebasan bagi bangsa Papua dari segala bentuk penindasan dan perbudakan terselubung yang sangat mengerikan dari Negara Indonesia serta para negara sekutunya kepada orang Papua.

Ya Tuhan yang pengasih dan penyayang, berapa lama lagi Engkau membiarkan bangsa Papua merana seorang diri mencari keadilan dan perdamaian di dunia ini? Selama ini para politisi Indonesia serta rakyatnya mengatakan bahwa ‘kemerdekaan bangsa Papua sedang menunggu waktu Tuhan’, ada yang bilang bahwa ‘bangsa Papua tidak akan merdeka.

Pernyataan-pernyataan ini menantang Tuhan: ‘Apakah Tuhan sungguh-sungguh turun tangan untuk menolong bangsa Papua keluar dari lingkaran belenggu penjajahan dan perbudakan ini?’ Atau apakah Tuhan hendak membiarkan bangsa Papua hilang musnah dari tanah leluhurnya– tanah Papua? Jika Allah terus membiarkan bangsa Papua menderita dan musnah dari tanah leluhurnya, mengapakah Allah menciptakan Tanah Papua dan menempatkan kami bangsa Papua di atas tanah ini? Bangsa Papua mati terbunuh habis bagaikan ‘kancil kecil’ terinjak-injak oleh gajah-gajah raksasa dunia; Mengapakah Allah terus diam membisu?

Allah Roh Kudus berdoalah bagi kami bangsa Papua kepada Tuhan di Surga; Karena hari-hari hidup kami semakin terancam, para algojo memasang para pengintai di pelosok negeri leluhur kami; Hanya demi sesuap nasi sesama Papua tertentu diperalat menjadi hamba NKRI untuk mempertahankan penjajahan dan penjarahan, Hanya demi HARTA, TAHTA dan WANITA, orang Papua tertentu menjadi hamba NKRI; Para hamba NKRI ini melancarkan berbagai bentuk aksinya untuk memburu para pejuang keadilan dan kedamaian; Mereka nekad memburu, meneror dan mengintimidasi sesama Papua, bahkan ada pula yang nekad membunuh sesama Papua yang jalan dalam barisan perjuangan; Langkah kami semakin dibatasi; suara kami semakin dikekang; Tiada hari tanpa intimidasi. Walau kebebasan kami dibatasi, ruang gerak kami dikekang, langkah kami dibatasi, tetapi kami tetap di sini – di negeri leluhur Papua, kami tetap berdiri kokoh bersama kebenaran sejarah Sang Bintang Fajar.

Tiada hari tanpa pengintai yang memantau gerak langkah kami; tetapi tidak takut dengan kehilangan nyawa kami; Kami hanya takut dan khawatir akan musnahnya etnis Papua dari tanah leluhurnya, akibat penjajahan Indonesia yang didukung negara-negara sekutunya yang tak henti-hentinya melancarkan operasi terbuka dan tertutup untuk memusnahkan etnis Papua; Seluruh hidup ini, dipersembahkan untuk kebebasan bangsa Papua; Jika Tuhan menghendaki nyawa kami pun siap dipertaruhkan demi sebuah keadilan, demi sebuah kebebasan dan demi sebuah kedamaian; Untuk itulah kami dilahirkan, untuk itulah kami dibesarkan dan untuk itulah kami mengabdi; Banyak anak negeri Papua telah gugur dalam medan perjuangan adalah bukti kecintaannya untuk pembebasan tanah tumpah darah Papua.

Tiada tempat untuk kami bersembunyi; Tiada tempat untuk kami berlari menyelamatkan diri; Walaupun setiap saat kami diburu oleh para algojo dan para hamba NKRI, akan tetapi di tempat inilah – di Tanah Papua tempat kami dilahirkan, tempat kami dibesarkan, tempat kami dibentuk, tempat kami dididik, tempat kami berjuang, tempat kami mengabdi dan tempat ini pula – di Tanah Papua akan mengakhiri hidup kami ketika nafas hidup ini diambil kembali oleh Tuhan; dan di negeri leluhur inilah tempat kami disemayamkan jika waktu Tuhan tiba untuk mengakhiri nafas hidup ini; sementara sesama Papua lainnya ke luar negeri dengan tujuan melaksanakan peran kampanye dan diplomasi. Ya Tuhan, di manakah tempat sandaran kami, di manakah tempat untuk kami berlindung? Hanyalah kepada-Mu Tuhan tempat perlindungan, tempat sandaran, kota yang berkubu dan benteng pertahanan kami.

Ya Bapa, di tangan kami hanya ada kebenaran sejarah dan realitas masa kini; Di tangan kami hanyalah kebenaran FirmanMu; Itulah kebenaran yang kami gunakan untuk menghadapi Indonesia dan para sekutunya; Selama ini negara Indonesia menghadapi bangsa Papua dengan segala kekuatan yang dimilikinya; Namun, hingga kini, RI dan para sekutunya tak mampu menghentikan perjuangan bangsa Papua untuk menegakkan kembali ‘kemerdekaan kedaulatan Papua’ yang telah dicaplok ke dalam NKRI.

Mengapa RI tak mampu mematahkan perjuangan bangsa Papua? Bangsa Papua tidak memiliki kekuatan seperti yang dimiliki oleh Negara Indonesia dan para sekutunya; Kekuatan kami adalah komitmen kami. Kekuatan kami adalah kasih setia kami; Kekuatan kami adalah doa kami; Kekuatan kami adalah beriman dan berpengharapan hanya kepadaMu Tuhan; Selama ini negara Indonesia dan para sekutunya dengan mudah menghancurkan apapun yang ada di Tanah Papua, tetapi mereka tak akan mampu menghancurkan kekuatan-kekuatan di atas ini yang dimiliki oleh bangsa Papua. Kekuatan-kekuatan itu telah menjadi darah daging dalam jiwa-jiwa Papua, sehingga mereka sangat sulit untuk menghancurkannya.

Wahai Roh Allah, Dikaulah diberi tugas untuk melanjutkan misi agung yang ditinggalkan oleh Yesus; Engkau diutus Tuhan untuk melanjutkan misi penyelamatan Allah bagi umat manusia di planet bumi ini. Papua berada dalam rencana dan ketetapan Allah; Papua adalah bangsa alternatif menjelang akhir zaman, maka kami mohon dengan penuh kerendahan hati dan dari lubuk hati kami yang paling dalam: mohonlah kiranya wahai Roh Allah pasanglah busur kebenaranMu dan luncurkanlah anak panah Roh Kebenaran-Mu ke segala penjuru dunia, kepada pembebasar-pembesar di dunia yang mengemban tugas untuk mengambil keputusan-keputusan penting.

Biarlah anak panah kebenaran-Mu meresap masuk ke dalam ruang terdalam – di lubuk hatinya dan meresap masuk juga ke dalam akal budi mereka; agar para pembesar dunia ini berpikir dengan matang dan menimbang di hatinya dengan baik, sehingga dapat menggerakkan hati mereka untuk mengambil keputusan yang adil dan bijaksana bagi penyelesaian masalah status politik bangsa Papua, yakni mengakui secara de facto dan de jure kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua, 1 Desember 1961, yang mana presiden RI, Soekarno pernah mengakui ‘adanya negara Papua’ dalam maklumat Tiga Komando Rakyat (TRIKORA), tetapi Negara Indonesia dibantu oleh para negara sekutunya menganeksasi Papua ke dalam NKRI pada tahun 1960-an melalui invasi militer dan invasi politik, yaitu traktat perjanjian New York, 15 Agustus 1962 secara sepihak tanpa melibatkan wakil dari bangsa Papua.

Wahai Roh Allah, Dikaulah diutus Tuhan ke dunia dan diberi tanggung jawab untuk melanjutkan karya agung yang ditinggalkan oleh Tuhan Yesus; Untuk itu, kami juga memohon kepada-Mu dengan penuh kerendahan hati, bahwa mohonlah kiranya Roh Allah memasang busur keadilan-Mu dan tembakkan ke seluruh dunia, kepada para pembesar di bumi yang mengemban tanggung jawab untuk penegakkan kebenaran untuk keadilan dan perdamaian, Biarlah anak panah keadilan-Mu merembes masuk ke dalam akal budi dan hati mereka, agar tergerak oleh belas kasihan akan penderitaan yang dialami bangsa Papua, sehingga pada saatnya yang tepat mengambil keputusan yang paling penting dan solusi final untuk memutuskan mata rantai penindasan dan perbudakan oleh Indonesia serta para sekutunya kepada bangsa Papua.

Ya Roh Allah, Dikaulah diutus Tuhan ke dunia sebagai daya yang menggerakkan, daya yang menghidupi dan daya yang menginspirasi Gereja agar semakin tumbuh berkembang menuju kepenuhan janji Allah, Tanah Papua adalah tanah tempat penuaian akhir Gereja Tuhan yang akan menjadi saksi-Mu untuk mewartakan perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah bagi Papua dan dunia; Jika busur anak panah kebenaran, anak panah keadilan, dan anak panah kedamaian-Mu tidak direspon oleh para pembesar di dunia, terlebih pembesar di Indonesia, maka pada kesempatan ini kami memohon kepada-Mu dengan penuh kepasrahan dan kerendahan hati, bahwa mohonlah kiranya Roh Allah melepaskan ‘Pedang Roh yang membara’ dan luncurkanlah ke seluruh dunia untuk memberikan peringatan dan teguran dengan tanda-tanda keajaiban-Mu yang maha dasyat kepada para pembesar di dunia yang mengemban tugas luhur dalam menangani dan menuntaskan berbagai konflik di dunia.

Biarlah ‘Pedang RohMu yang membara itu merasuki ke dalam akal budi dan hati mereka, agar daya Pedang Roh menyadarkan mereka, sehingga mereka mengambil keputusan yang mengikat dan paling menentukan dengan ‘jalan damai’ untuk mengembalikan hak kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua yang dianeksasi ke dalam NKRI dengan jalan mengakui kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua secara de facto dan de jure, 1 Desember 1961.

Ya Bapa yang panjang sabar, namun setia dalam melaksanakan ketetapan dan janji-Mu, mata iman kami melihat dan RohMu bersaksi kepada para hambaMu bahwa sesungguhnya anak panah-anak panah Kebenaran, Keadilan, Kedamaian, dan Pedang RohMu yang membara itu sudah dan sedang dilepaskan oleh-Mu, namun dunia tidak menyelaminya, dunia tidak memahaminya, dunia tidak menangkap maksud di balik semua bentuk peringatan yang menimpa Indonesia dan belahan dunia lainnya.

Gerakan Pemulihan Diri Menuju Pemulihan Bangsa Papua, Jaringan Doa Rekonsiliasi untuk Pemulihan Papua (JDR-P2). Yesus berfirman: Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah,’ Injil Lukas 18 : 27. Penulis adalah Selpius Bobii, nomor kontak 0823 9938 1321.)*

No subpages excerpts found.

[+] Most Popular Topics


Selpius Bobii, KEtua Jarigan Doa Pemulihan PapuaDi mana ada Yesus, maka Ada Semua ini....Hari Ulang Tahun Kebangkitan Bangsa Papua I, 1 Desember 1961